Frasa "Think globally, act locally" or "Think global, act local" acap kali dipakai dalam berbagai konteks, baik kesehatan, lingkungan dan lain sebagainya. Bagi saya, frasa ini adalah frasa yang saya jadikan pegangan untuk melakukan suatu perubahan. Sebagai anak muda, saya harus berwawasan luas, global dan terbuka akan informasi, dan kemudian untuk melakukan perubahan dimulai dari diri sendri dan lingkungan sekitar. Ini adalah hal yang sangat mudah.
Saya merasa sangat miris melihat kebiasaan beberapa orang yang tidak peduli akan lingkungan sekitarnya sendiri. Mulai dari hal yang kecil seperti membuang sampah pada tempatnya. Hal sekecil ini pun terkadang sulit dilakukan. Tidak sedikit dari orang saya kenal masih kesulitan untuk membuang sampah pada tempatnya , parahnya mereka termasuk dalam kalangan yang berpendidikan. Memang pemerintah telah memperkerjakan ribuan petugas kebersihan. Namun hal tersebut tidaklah cukup, jika masih banyak yang membuang sampah sembarang. Saya berpikir, hal apa yang dapat merubah pola hidup masyarakat Indonesia agar sadar betul akan pentingnya membuang sampah pada tempatnya. Mungkin kita dapat mencontoh negara tetangga, Singapura. Tetangga kita ini sangat terjaga kebersihannya. Sepertinya Indonesia perlu menerapkan denda seperti yang diterapkan tetangga kita, namun bukan denda yang muluk-muluk, lebih baik denda yang masih bisa dijangkau sehingga dalam penerapannya benar-benar dilakukan dengan baik, bukan hanya menjadi sekedar peraturan yang diabaikan.
Jakarta sebagai Ibu Kota Indonesia, mengalami banjir besar hampir setiap lima tahun sekali. Ketika banjir datang, kebanyakan orang menyalahkan pemerintah, terutama sang Walikota. Miris. Ya, banyak orang tidak berkaca kepada dirinya sendiri, apakah sudah benar-benar menjaga lingkungan sekitarnya. Saya tidak pro pemerintah, namun tetap saja menyalahkan pemerintah bukanlah hal yang bijak bagi seorang warga yang berpendidikan.
(Foto di pesisir pantai utara Jakarta).
Kemarin malam, Sabtu, 15 Oktober 2011, sekitar pukul 23.00 WIB, saya menyempatkan diri untuk menikmati akhir pekan di Taman Impian Jaya Ancol. Malam tersebut saya menyaksikan suatu kejadian yang sangat tidak patut untuk dicontoh, dan hal tersebut membuat saya kesal. Jujur saya bahkan sempat mengumpat karena hal ini. Malam itu, saya melihat beberapa pasang anak muda berjalan di jembatan di Pantai Ancol, kemudian salah seorang gadis melempar sampah bungkusan plastik ke laut tanpa rasa bersalah sedikit pun. Sangat memalukan. Padahal jelas sekali terdapat tong sampah dalam jarak 2 meter didekatnya.
Satu keinginan terbesar saya dalam hal ini adalah memberitahukan banyak orang akan pentingnya membuang sampah pada tempatnya. Mengingatkan bahwa kebersihan itu sebagian dari iman. Hal yang membuat saya selalu takut untuk membuang sampah sembarang adalah dengan menganalogikan para petugas kebersihan sampah sebagai orang tua saya sendiri. Jika orang tua saya petugas kebersihan saya tidak akan tega membuang sampah sembarangan. Saya selalu mengatakan analogi ini kepada teman-teman terdekat saya, bukan karena saya ingin mengajari, tetapi saya ingin mereka ikut menyadari pentingnya membuang sampah pada tempatnya.
Pada intinya, jika sulit melakukan perubahan bagi Indonesia, maka lakukan perubahan pada diri sendiri dan lingkungan sekitar terlebih dahulu. Dengan demikian saya yakin dan percaya akan ada perubahan yang besar jika semua orang memulainya. Amin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar